Ini Tanggapan Mahfud MD Terkait Kesaksian Keponakannya di MK

- Pewarta

Jumat, 21 Juni 2019 - 19:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Adilmakmur.co.id, Jakarta – Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD menganggap kesaksian keponakannya, Hairul Anas, dalam sidang sengketa pilpres MK tidak cukup kuat membuktikan gugatan.

Menurut Mahfud, kesaksian keponakannya terkait sejumlah klaim mulai dari keterlibatan aparat pemerintah hingga golongan putih hanya berdasarkan persepsi.

“Tapi soal kesaksiannya sih mentah menurut saya,” katanya di kantor Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Kamis (20/6/2019).

Dia mencontohkan, kesaksian Hairul mengenai pidato Moeldoko yang menyatakan bahwa perbuatan curang di demokrasi adalah hal yang wajar yang dimaknai secara berbeda.

“Tetapi Moeldoko kan tidak menyuruh orang curang. Hanya bilang bahwa di demokrasi itu biasa terjadi kecurangan, tapi tidak mengajak curang kan,” ungkapnya.

Kesaksian Hairul kedua soal Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf yang menyerukan golput agar pasangan tersebut menang juga diakuinya keliru.

Justru, dia berpendapat kalangan golput itu merupakan ladang bagi pasangan calon 01 dalam mendulang suara.

“Itu sebaliknya, justru Pak Jokowi dan TKN berkampanye agar jangan golput. Karena 73 persen dari hasil survei, orang yang mau golput itu ditanya mau pilih Jokowi. Itu kan hasil surveinya begitu,” jelasnya.

Selanjutnya, Mahfud mengungkapkan Hairul mengklaim ada keterlibatan aparat. Jika yang dimaksud keterlibatan adalah aparat yang mengkampanyekan keberhasilan pemerintah, hal itu dianggapnya menjadi sebuah keharusan.

“Ya namanya aparat kan tugasnya mengkampanyekan program pemerintah, keberhasilan pemerintah. Itu sudah biasa saja. Tapi kan tidak curang. Artinya dari kesaksian yang disampaikan itu ya semuanya mentah, tidak ada kaitannya dengan kecurangan,” jelasnya.

Namun, secara umum, dia menjelaskan perbedaan pandangan dalam sebuah keluarga adalah hal biasa. Tak hanya itu, dia menegaskan berpolitik merupakan hak masing-masing orang.

“Ya ndak apa-apa. Biasa lah satu keluarga beda-beda. Bu Mega dengan Bu Rahma beda, keluarga Gus Dur juga beda-beda, keluarga saya juga beda-beda. Itu ya kalau soal politik itu hak masing-masing,” tekannya. (*)

Berita Terkait

Dugaan Korupsi Kredit LPEI, Jejak Dana PT MAJU Disorot KPK
Jokowi Tanggapi Surat Pemakzulan Gibran Rakabuming, Sebut Dinamika Demokrasi dan Mekanisme Konstitusi
Forum Purnawirawan TNI Kirim Surat Pemakzulan Gibran Rakabuming, Jokowi: Biasa dalam Demokrasi
Reshuffle Kabinet Prabowo Subianto, Momentum Penguatan Pemerintahan Menuju Transformasi Ekonomi Nasional
Dari Senayan ke SOKSI: Langkah Politik Baru Misbakhun, Sayap Golkar yang Strategis Jelang 2029 Mendatang
Kader Muda PPP Dorong Elite Partai Kembali ke Prinsip Paling Dasar, Kebersamaan dan Musyawara
Beginilah 5 Jalan yang Dilakukan Press Release untuk Lakukan Perbaikan Citra dan Pulihkan Nama Baik
Akhirnya Prabowo Subianto Bertemu dengan Megawati Soekarno Putri, Silaturahmi Idul Fitri 2,5 Jam

Berita Terkait

Rabu, 13 Agustus 2025 - 11:49 WIB

Dugaan Korupsi Kredit LPEI, Jejak Dana PT MAJU Disorot KPK

Senin, 9 Juni 2025 - 09:28 WIB

Jokowi Tanggapi Surat Pemakzulan Gibran Rakabuming, Sebut Dinamika Demokrasi dan Mekanisme Konstitusi

Sabtu, 7 Juni 2025 - 06:47 WIB

Forum Purnawirawan TNI Kirim Surat Pemakzulan Gibran Rakabuming, Jokowi: Biasa dalam Demokrasi

Rabu, 4 Juni 2025 - 14:39 WIB

Reshuffle Kabinet Prabowo Subianto, Momentum Penguatan Pemerintahan Menuju Transformasi Ekonomi Nasional

Kamis, 22 Mei 2025 - 15:14 WIB

Dari Senayan ke SOKSI: Langkah Politik Baru Misbakhun, Sayap Golkar yang Strategis Jelang 2029 Mendatang

Berita Terbaru

logo

Pers Rilis

/C O R R E C T I O N — PayJoy/

Rabu, 11 Feb 2026 - 20:15 WIB