Selain Korupsi, Ini Penyebab Neraca Perdagangan Indonesia Terus Terpuruk

- Pewarta

Kamis, 20 Desember 2018 - 01:11 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Mantan Menteri Keuangan, Fuad Bawazier.

Mantan Menteri Keuangan, Fuad Bawazier.

Adilmakmur.co.id, Jakarta – Neraca dagang Indonesia kembali mengalami defisit. Kondisinya semakin memperhatinkan bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Pada November ini Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat defisit neraca dagang mencapai US$ 2,05 miliar, terparah sejak 2013.

Mantan Menteri Keuangan Fuad Bawazier mengatakan, defisit neraca perdagangan yang terus terpuruk karena Indonesia saat ini tidak memiliki ekspor andalan. Dengan demikian pemerintah tidak bisa menahan defisit.

BACA JUGA : Korupsi Penyebab Runtuhnya Semua Kebijakan Ekonomi Rezim Ini

“Pertama defisit itu utamanya karena ekspor kita melemah, kita tidak punya ekspor andalan, orde baru kita punya komoditas ekspor andalan dan dikawal oleh pemerintah dan itu berhasil (seperti) playwood, tekstil kita jalan. (Sekarang) Ini nggak ada,” kata Fuad dalam diskusi Rabu Biru bertajuk ‘Menilik Defisit Neraca Perdagangan, Pajak dan Kondisi Bisnis Indonesia’ di Media Center Prabowo-Sandi, Jalan Sriwijaya 35, Jakarta Selatan, Rabu (19/12/2018).

Sementara pemerintah saat ini, kata Dewan Penasihat Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, kebijakan ekonomi untuk menaikkan nilai ekspor serta valuta asing tidak dijalankan dengan baik. Tidak dikawal seperti pada pemerintahan sebelumnya, dan akhirnya desifit neraca perdagangan tidak bisa dielakan lagi.

“Paket kebijakan ekonomi yang sudah bertumpuk itu, itu satu meningkatkan ekspor, satu valuta asing, cuma ini semua diatas kertas, diunumin sendiri gak jalan,” ucap dia.

Kemudian, kebijakan penerapan B20 atau pencampuran 20% minyak sawit ke solar tidak berdampak besar. Bahkan, biang kerok defisit dagang saat ini paling besar disumbamg sektor migas. Dimana impor migas per November masih bengkak dan menyumbang defisit US$ 1,5 miliar. Sepanjang Januari-November, tercatat defisit sudah mencapai US$ 12,15 miliar atau setara Rp 176 triliun.

“Untuk mengurangi neraca perdagangan makanya ada B20, itu gak jalan, angka itu tidak pengaruh B20, kalau dikasih B20 rusak mesin kita, itu memang untuk bantu (harga) sawit yang jatuh,” kata dia.

Menurut dia, migas yang selalu menjadi biang kerok defisit neraca perdagangan dikarenakan pada saat ini masih kurang eksplorasi. Sehingga pemerintah selalu melakukan impor BBM.

“Defisit neraca perdagangan itu berkaitan dengan inpor BBM, kita konsumsi kurang 1,6 juta barel, produksi kita 750 ribu barel, orde baru kita kebalik makanya jadi anggota opec, sekarang kebalik, ini sesuatu yang salah, menurut ahli minyak anda masih banyak (sumber minyak), berarti ada kebijakan eksplorasi yang tidak menenai,” kata dia.

Selain itu, tindakan koruptif dari pejabat. Hal ini tentunya, lanjut dia, menghambat kebijakan ekonomi yang dilakukan oleh pemerintah. “Karena penyakit korupsi, menegakan pemerataan tidak bisa, melakukan perbaikan ekspor tidak bisa, impor ditekan tidak bisa,” kata Fuad. (yug)

Berita Terkait

Dugaan Korupsi Kredit LPEI, Jejak Dana PT MAJU Disorot KPK
Jokowi Tanggapi Surat Pemakzulan Gibran Rakabuming, Sebut Dinamika Demokrasi dan Mekanisme Konstitusi
Forum Purnawirawan TNI Kirim Surat Pemakzulan Gibran Rakabuming, Jokowi: Biasa dalam Demokrasi
Reshuffle Kabinet Prabowo Subianto, Momentum Penguatan Pemerintahan Menuju Transformasi Ekonomi Nasional
Dari Senayan ke SOKSI: Langkah Politik Baru Misbakhun, Sayap Golkar yang Strategis Jelang 2029 Mendatang
Kader Muda PPP Dorong Elite Partai Kembali ke Prinsip Paling Dasar, Kebersamaan dan Musyawara
Beginilah 5 Jalan yang Dilakukan Press Release untuk Lakukan Perbaikan Citra dan Pulihkan Nama Baik
Akhirnya Prabowo Subianto Bertemu dengan Megawati Soekarno Putri, Silaturahmi Idul Fitri 2,5 Jam

Berita Terkait

Rabu, 13 Agustus 2025 - 11:49 WIB

Dugaan Korupsi Kredit LPEI, Jejak Dana PT MAJU Disorot KPK

Senin, 9 Juni 2025 - 09:28 WIB

Jokowi Tanggapi Surat Pemakzulan Gibran Rakabuming, Sebut Dinamika Demokrasi dan Mekanisme Konstitusi

Sabtu, 7 Juni 2025 - 06:47 WIB

Forum Purnawirawan TNI Kirim Surat Pemakzulan Gibran Rakabuming, Jokowi: Biasa dalam Demokrasi

Rabu, 4 Juni 2025 - 14:39 WIB

Reshuffle Kabinet Prabowo Subianto, Momentum Penguatan Pemerintahan Menuju Transformasi Ekonomi Nasional

Kamis, 22 Mei 2025 - 15:14 WIB

Dari Senayan ke SOKSI: Langkah Politik Baru Misbakhun, Sayap Golkar yang Strategis Jelang 2029 Mendatang

Berita Terbaru

logo

Pers Rilis

/C O R R E C T I O N — PayJoy/

Rabu, 11 Feb 2026 - 20:15 WIB