Jokowi Tegur Menteri di Kabinet Paripurna, Politikus PDIP : Itu Kode

- Pewarta

Rabu, 10 Juli 2019 - 03:52 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Adilmakmur.co.id, Jakarta – Presiden Joko Widodo menegur sejumlah Menteri Kabinetnya, diantaranya Menteri BUMN Rini Soemarno dan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan. Teguran Jokowi ini diibaratkan sebagai sinyal buruk bagi menteri-menteri tersebut.

Poltikus PDIP, Masinton Pasaribu, mengatakan teguran Jokowi di akhir masa pemerintahan periode pertamanya itu dapat dikatakan sebagai kode.

“Ya mungkin sebagai kode yah. Ya mungkin aja sebagai kode kalau kita membacanya,” kata Masinton di Gedung DPR RI, Jakarta Selasa 9 Juli 2019

Menurut dia, hal tersebut tak hanya terjadi pada Pemerintahan Jokowi. Namun, sebelum Jokowi juga pernah menegur menterinya di akhir periode pemerintahan. Lalu, pada masa jabat pemerintahan berikutnya menteri yang ditegur tersebut tidak dipercaya lagi untuk menduduki posisi menteri.

“Beberapa presiden sebelumnya dari zaman Pak Harto juga gitu kan. Menteri yang ditegur presiden di masa akhir biasanya tidak diikutkan dalam kabinet selanjutnya,” ujar Masinton.

Namun, ia mengatakan, terkait posisi menteri adalah hak prerogatif presiden. Maka itu, bisa saja Jokowi masih mengikutsertakan menteri yang ditegur dalam kabinetnya di periode kedua 2019-2024

“Tapi, ini saya enggak tahu nih. Apakah preseden itu masih berlanjut atau tidak. Saya enggak tau,” ujarnya.

Dalam sidang kabinet paripurna di Istana Bogor, Jokowi sempat menegur Menteri ESDM Ignasius Jonan dan Menteri BUMN Rini Soemarno. Awalnya, Jokowi menyoroti defisit neraca perdagangan.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) yang ditampilkan Presiden, memperlihatkan ekspor pada Januari-Mei 2019 mengalami penurunan hingga 8,6 persen.

Defisit neraca perdagangan tersebut disebabkan tingginya impor yang tak sebanding dengan ekspor. Jokowi menyebut, impor yang tinggi itu justru berada di sektor minyak dan gas.

“Artinya neraca perdagangan kita, Januari-Mei ada defisit US$2,14 miliar. Coba dicermati angka-angka ini dari mana, kenapa impor jadi sangat tinggi, kalau didetailkan lagi migasnya ini naiknya gede sekali. Hati-hati di migas pak menteri ESDM yang berkaitan dengan ini, bu menteri BUMN yang berkaitan dengan ini, karena rate-nya yang paling banyak ada di situ,” kata Presiden Jokowi, di Istana Bogor, Senin 8 Juli 2019. (*)

Berita Terkait

Dugaan Korupsi Kredit LPEI, Jejak Dana PT MAJU Disorot KPK
Jokowi Tanggapi Surat Pemakzulan Gibran Rakabuming, Sebut Dinamika Demokrasi dan Mekanisme Konstitusi
Forum Purnawirawan TNI Kirim Surat Pemakzulan Gibran Rakabuming, Jokowi: Biasa dalam Demokrasi
Reshuffle Kabinet Prabowo Subianto, Momentum Penguatan Pemerintahan Menuju Transformasi Ekonomi Nasional
Dari Senayan ke SOKSI: Langkah Politik Baru Misbakhun, Sayap Golkar yang Strategis Jelang 2029 Mendatang
Kader Muda PPP Dorong Elite Partai Kembali ke Prinsip Paling Dasar, Kebersamaan dan Musyawara
Beginilah 5 Jalan yang Dilakukan Press Release untuk Lakukan Perbaikan Citra dan Pulihkan Nama Baik
Akhirnya Prabowo Subianto Bertemu dengan Megawati Soekarno Putri, Silaturahmi Idul Fitri 2,5 Jam

Berita Terkait

Rabu, 13 Agustus 2025 - 11:49 WIB

Dugaan Korupsi Kredit LPEI, Jejak Dana PT MAJU Disorot KPK

Senin, 9 Juni 2025 - 09:28 WIB

Jokowi Tanggapi Surat Pemakzulan Gibran Rakabuming, Sebut Dinamika Demokrasi dan Mekanisme Konstitusi

Sabtu, 7 Juni 2025 - 06:47 WIB

Forum Purnawirawan TNI Kirim Surat Pemakzulan Gibran Rakabuming, Jokowi: Biasa dalam Demokrasi

Rabu, 4 Juni 2025 - 14:39 WIB

Reshuffle Kabinet Prabowo Subianto, Momentum Penguatan Pemerintahan Menuju Transformasi Ekonomi Nasional

Kamis, 22 Mei 2025 - 15:14 WIB

Dari Senayan ke SOKSI: Langkah Politik Baru Misbakhun, Sayap Golkar yang Strategis Jelang 2029 Mendatang

Berita Terbaru

logo

Pers Rilis

/C O R R E C T I O N — PayJoy/

Rabu, 11 Feb 2026 - 20:15 WIB