Sidang Putusan MK : Pendukung Prabowo akan Berdemo Meski Dilarang Polisi

- Pewarta

Rabu, 26 Juni 2019 - 04:35 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Adilmakmur.co.id, Jakarta – Kepolisian melarang unjuk rasa di sekitar Gedung Mahkamah Konstitusi saat pembacaan putusan atas gugatan hasil pilpres, Kamis (27/6/2019) besok.

Polisi menilai demonstrasi yang diklaim digelar secara damai tetap berpotensi ricuh dan rentan disusupi provokator hingga pelaku teror.

Namun sekelompok orang tetap bersikeras melakukan unjuk rasa di sekitar MK. Mereka berasal dari beberapa organisasi seperti Forum Ukhuwah Islamiyah (FUI) dan Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Ulama (GNPF).

Tapi mereka mengatakan unjuk rasa itu tidak untuk mendukung kemenangan salah satu pasangan capres-cawapres.

Juru Bicara Mabes Polri, Brigjen Dedi Prasetyo, menyebut larangan unjuk rasa di sekitar gedung MK diputuskan untuk mencegah kericuhan yang terjadi di kantor Bawaslu, 21-22 Mei lalu.

Dedi berkata, saat itu kericuhan pecah menyusul demonstrasi yang diklaim pendukung Prabowo Subianto berlangsung damai. Dalam catatan sejumlah lembaga swadaya masyarakat, sembilan orang meninggal dunia dalam kerusuhan tersebut.

“Koordinator lapangan unjuk rasa tidak akan bisa mengatur massa dalam jumlah banyak. Psikologi massa sangat susah dikendalikan,” ujar Dedi via telepon kepada BBC News Indonesia, Selasa (25/6/2019).

“Massa itu akan sangat mudah diprovokasi oleh pihak yang ingin aksi damai jadi rusuh. Mereka juga mudah disusupi pelaku terorisme. Itu kan berbahaya,” kata Dedi.

Polri mengerahkan 47.000 personel dalam operasi pengamanan gedung MK hingga akhir pekan ini. Sekitar 17.000 personel di antaranya merupakan tentara.

“Di MK tidak boleh ada unjuk rasa. Kami sudah sampaikan itu sejak beberapa minggu lalu. MK harus steril,” tutur Dedi.

Rencana unjuk rasa menjelang dan saat pembacaan putusan gugatan sengketa pilpres didengungkan Abdullah Hehamahua. Ia pernah menjadi penasihat pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi.

Sebelum itu, Abdullah membentuk Partai Islam Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi) pada pemilu tahun 1999.

Abdullah berkeras berdemo ke sekitar gedung MK, pada 26 dan 27 Juni ini. Ia mengaku telah memberi surat pemberitahuan ke kepolisian, meski dibantah Polri.

Sekitar 5.000 orang disebut Abdullah bakal mengikuti demonstrasi itu. Selama sidang sengketa pilpres bergulir di MK, Abdullah dan kelompoknya juga berunjuk rasa, namun dengan peserta yang tak mencapai angka ratusan orang.

Abdullah menyebut demo kelompoknya bakal berlangsung damai.

“Aksi kami sudah sejak 14, 18, 21, dan 24 Juni. Tidak terjadi apa-apa. Saya jamin, sebelum jam lima sore kami sudah bubar. Kalau ada provokasi setelahnya, itu bukan kami,” kata Abdullah.

Kepolisian menetapkan unjuk rasa terkait pilpres hanya dapat digelar di Tugu Tani, Jakarta. Lokasi itu berjarak antara dua hingga tiga kilometer dari gedung MK.

Brigjen Dedi Prasetyo menyatakan, kepolisian akan membubarkan secara paksa kelompok massa yang akan menuju gedung MK, Kamis besok (27/6/2019).

“Sidang disiarkan langsung di televisi, buat apa masyarakat datang ke MK?” kata Dedi.

Namun Abdullah Hehamahua menganggap keberadaan kelompoknya di sekitar gedung MK merupakan dukungan pada pemilu yang jujur dan adil.

Abdullah enggan kelompoknya disebut sebagai dukungan untuk Prabowo. Ia mengklaim berdemo agar MK mengambil sikap atas sejumlah petugas pemungutan suara yang meninggal dunia selama proses pemilu, April lalu.

“Kami tidak bicara soal 01 atau 02. Ini bukan soal Prabowo, saya tidak pernah ketemu dia atau Sandiaga. Kami mendukung putusan sesuai fakta hukum,” ujarnya.

Kepolisian belum mengungkap para pihak di balik kematian sembilan orang dalam kisruh 22 Mei. Di sisi lain, Komnas HAM menduga dua korban kehilangan nyawa akibat peluru tajam.

Di luar itu, Polri menduga ada upaya pembunuhan terhadap empat pejabat negara, antara lain Menko Polhukam Wiranto dan Kepala BIN, Budi Gunawan. Demikian, seperti dikutip Bbc.com. (*)

Berita Terkait

Dugaan Korupsi Kredit LPEI, Jejak Dana PT MAJU Disorot KPK
Jokowi Tanggapi Surat Pemakzulan Gibran Rakabuming, Sebut Dinamika Demokrasi dan Mekanisme Konstitusi
Forum Purnawirawan TNI Kirim Surat Pemakzulan Gibran Rakabuming, Jokowi: Biasa dalam Demokrasi
Reshuffle Kabinet Prabowo Subianto, Momentum Penguatan Pemerintahan Menuju Transformasi Ekonomi Nasional
Dari Senayan ke SOKSI: Langkah Politik Baru Misbakhun, Sayap Golkar yang Strategis Jelang 2029 Mendatang
Kader Muda PPP Dorong Elite Partai Kembali ke Prinsip Paling Dasar, Kebersamaan dan Musyawara
Beginilah 5 Jalan yang Dilakukan Press Release untuk Lakukan Perbaikan Citra dan Pulihkan Nama Baik
Akhirnya Prabowo Subianto Bertemu dengan Megawati Soekarno Putri, Silaturahmi Idul Fitri 2,5 Jam

Berita Terkait

Rabu, 13 Agustus 2025 - 11:49 WIB

Dugaan Korupsi Kredit LPEI, Jejak Dana PT MAJU Disorot KPK

Senin, 9 Juni 2025 - 09:28 WIB

Jokowi Tanggapi Surat Pemakzulan Gibran Rakabuming, Sebut Dinamika Demokrasi dan Mekanisme Konstitusi

Sabtu, 7 Juni 2025 - 06:47 WIB

Forum Purnawirawan TNI Kirim Surat Pemakzulan Gibran Rakabuming, Jokowi: Biasa dalam Demokrasi

Rabu, 4 Juni 2025 - 14:39 WIB

Reshuffle Kabinet Prabowo Subianto, Momentum Penguatan Pemerintahan Menuju Transformasi Ekonomi Nasional

Kamis, 22 Mei 2025 - 15:14 WIB

Dari Senayan ke SOKSI: Langkah Politik Baru Misbakhun, Sayap Golkar yang Strategis Jelang 2029 Mendatang

Berita Terbaru

logo

Pers Rilis

/C O R R E C T I O N — PayJoy/

Rabu, 11 Feb 2026 - 20:15 WIB