SEKARANG, pelajar SMA dan SMK yang turun ke gedung DPR-RI. Memang tidak sebanyak seperti seniornya para Mahasiswa, tapi kehadirannya jelas warning bagi para elit.
Anak-anak atau cucu-cucu kita itu telah bergerak. Usia mereka masih banyak yang belum genap 17 tahun. Tapi, hati mereka sudah terpanggil. Mereka mengaku ingin berbuat. Mereka ingin memberikan sumbangsihnya untuk negeri yang lebih baik.
Pertanyaannya, di mana para elit, para anggota parlemen yang dulu menaku berjuang lewat jalanan? Tidakkah hati kalian tergerak? Tidakkah kalian malu dengan anak-anak yang belum genap 17 tahun itu?
Atau, jangan-jangan kalian juga ingin menuding para pelajar itu, anak-anak kalian itu, cucu-cucu kalian itu ditunggangi? Entahlah.
Bersatu
Ada dua sisi paling menarik yang saya lihat dari aksi para pelajar itu. Pertama, mereka ternyata bisa meredam kebiasaan buruk mereka yang gemar tawuran. Seperti kita ketahui, anak-anak kita, cucu-cucu kita baik yang di SMK maupun SMA, selalu saja tawuran.
Mereka tidak boleh melihat anak-anak sebaya mereka lewat begitu saja. Tawuran langsung terjadi. Dan jika tawuran terjadi, mereka tak sungkan melakukan apa saja bahkan hingga ada nyawa yang melayang.
Tapi, Rabu (25/9/2019) semua itu tak terjadi. Mereka justru saling bahu-membahu, saling tunjang, saling peluk dan saling peduli.
Inilah kali pertama saya atau kita bisa melihat para pelajar bisa bersatu.
Kedua, saat menghadapi polisi di demo yang berujung ricuh, para pelajar itu memperlihatkan kelasnya sebagai akhli tawuran. Mereka mundur ketika ditembaki, tapi kemudian maju lagi merangsek. Akibatnya kerusuhan menjadi lebih lama dan lebih menyebar.
Baca Juga:
Coda Luncurkan Kampanye Regional untuk Cegah Penipuan Daring bagi Pemain Gim
Lepas dari semua itu, gerakan pelajar hendaknya benar-benar bisa kita jadikan sebagai cermin. Artinya, jika anak-anak kita, cucu-cucu kita sudah bergerak dan bersuara, maka itu artinya keadaan sudah benar-benar rawan.
Dan jika anak-anak, cucu-cucu kita sedang bergerak dan bersuara, lalu dipukuli dan diperlakukan seperti orang-orang dewasa, masihkah kita menganggap itu biasa-biasa saja?
Anak-anakku, cucu-cucuku, jangan menyerah. Anak-anakku, cucu-cucuku, jangan lengah. Hati-hatilah karena pentungan, gas air mata, kemarahan petugas, kedzaliman petugas tidak pernah mengenal usia. Semoga Allah Azza wa jalla selalu menjagamu.. aamiin.
[Oleh: M. Nigara. Penulis adalah Wartawan Senior Indonesia]





