Mengapa Xi Jinping “Hilang” saat China Perangi Virus Corona?

- Pewarta

Kamis, 6 Februari 2020 - 02:22 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Adilmakmur.co.idm, China – Presiden China, Xi Jinping, telah absen dari pandangan publik selama berhari-hari ketika pemerintahnya berjuang untuk memerangi wabah virus Corona baru, 2019-nCoV, yang sudah merenggut lebih dari 400 nyawa manusia dan menginfeksi lebih dari 20.000 orang.

Penampilannya yang terakhir di muka umum adalah pada 28 Januari ketika dia bertemu sekretaris jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di Beijing, di mana dia secara pribadi memerintahkan respons cepat terhadap wabah penyakit tersebut.

Tencent Kemungkinan Tak Sengaja Bocorkan Data Ril Jumlah Kasus Virus Corona, Angka Kematian 24 Ribu, Lalu Dihapus Namun Xi bukan wajah perjuangan pemerintah China dalam melawan virus mematikan ini. Dia belum terlihat mengunjungi rumah sakit, dokter atau pasien. Pada hari-hari setelah para pejabat mengakui gawatnya krisis ini, Perdana Menteri Li Keqiang yang mengunjungi Wuhan, kota pusat wabah virus Corona baru.

Foto-foto konvoi panjang sempat memicu desas-desus selama akhir pekan lalu bahwa Xi sedang dalam perjalanan ke Wuhan, meski faktanya dia belum muncul.

Kendati tak muncul di depan publik, media pemerintah menggambarkan Xi Jinping sebagai “komandan dari kejauhan”. Dia telah berjanji untuk mengatasi apa yang dia sebut sebagai “virus iblis” dan menyetujui langkah-langkah seperti penyebaran 1.400 petugas medis militer di rumah sakit baru di Wuhan.

Pada hari Senin, Xi Jinping mengetuai pertemuan Komite Tetap Politbiro Partai Komunis dan memerintahkan para pejabat untuk bekerja sama guna meningkatkan sistem tanggap darurat negara dan kesehatan masyarakat.

Untuk seorang pemimpin yang wajahnya dan kata-katanya menghiasi spanduk dan tanda-tanda di seluruh negeri dan ditampilkan di media pemerintah setiap hari, pendekatan sederhana selama masa krisis nasional tampaknya tidak berkarakter.

“Ini jelas merupakan salah satu masalah paling serius untuk dihadapi China dalam beberapa dekade. Xi memiliki kekuatan yang sangat terpusat pada dirinya sendiri, menumbuhkan citra populis, dan menyandang gelar ‘pemimpin rakyat’,” kata Carl Minzner, seorang profesor hukum dan politik China di Universitas Fordham.

“Gagal untuk mengatasi masalah ini di depan umum tampaknya akan merusak citra populisnya,” ujarnya, seperti dikutip The Guardian, Rabu (5/2/2020).

Beberapa ahli mengatakan pendekatan itu mungkin disengaja. Xi, yang memiliki kekuasaan yang terpusat secara agresif dan menjadikan dirinya inti dari Partai Komunis, mungkin lebih berisiko terhadap dampak politis dari virus Corona baru. Pejabat pemerintah daerah sejauh ini menanggung beban kritik, tetapi karena pemerintah pusat menangani krisis, lebih banyak pengawasan akan dilakukan pada pejabat tinggi.

“Jika situasinya membaik, dia (Xi Jinping) akan mengambil kredit. Jika memperburuk kesalahan akan ditimpakan pada Li Keqiang,” kata Vivienne Shue, seorang profesor studi China kontemporer di University of Oxford China Center.

Beberapa upaya tingkat pusat telah disetujui oleh Xi, seperti mengunci Wuhan dan kota-kota sekitarnya ketika tidak ada cukup pasokan medis dan kapasitas rumah sakit untuk mengatasi jumlah pasien.

Ketidakhadiran Xi dari tempat kejadian telah jadi perhatian. “Dia belum mengunjungi tempat-tempat yang terkena virus,” kata Shue. “Ini telah dikritik sebagian karena Xi mengklaim sebagai inti dari kepemimpinan, kepemimpinan yang sangat kuat…dan dia tidak memiliki keberanian untuk pergi ke daerah yang dilanda epidemi.”

Komentar yang sebelumnya tersedia tentang ketidakhadiran Xi yang secara mengejek menggunakan istilah “memerintah secara pribadi” telah disensor dari platform media sosial China, Weibo dan Douban.

Sebuah posting berjudul “Apa yang telah dilakukan Xi hari ini” di situs Pincong.rocks, sebuah forum diskusi berbahasa China yang diselenggarakan di luar negeri, memantik diskusi online yang ramai.

“Mungkin dia sudah menemukan tempat yang aman untuk bersembunyi dan mengarantina diri sendiri,” kata seorang komentator dalam menanggapi posting tersebut. “Mungkin dia dengan semua masker wajah yang hilang di Wuhan,” bunyi komentar lain, mengacu pada kekurangan masker dan peralatan medis di kota tersebut. (kts)

Berita Terkait

Konflik Lahan Resor Donald Trump, Nasib Petani Vietnam di Ujung Tanduk
Peringatan Israel: Aktivis Gaza Terancam Penjara, Greta Thunberg Lolos Setelah Bertahan di Kapal?
Protes Imigran di New York Berujung Bentrok: Polisi Borgol Demonstran, Satu Orang Dilarikan ke RS
Sultan Brunei Darussalam dan Perdana Menteri Thailand Temui Presiden Tiongkok Xi Jinping di Beijing
Mantan Presiden AS Bill Clinton Dirawat di Georgetown University Medical Center di Washington, Alami Demam
Presiden Suriah Bashar al-Assaddan dan Anggota Keluarganya Dikabarkan Telah Tiba di Moskow
Di Hadapan Pimpinan Negara G20, Presiden Prabowo Subianto Kembali Suarakan Perdamaian Palestina
Jelang Pemungutan Suara, Capres Donald Trump Gugat CBS dan Ajukan Keluhan ke Washington Post

Berita Terkait

Rabu, 13 Agustus 2025 - 10:41 WIB

Konflik Lahan Resor Donald Trump, Nasib Petani Vietnam di Ujung Tanduk

Jumat, 13 Juni 2025 - 14:37 WIB

Peringatan Israel: Aktivis Gaza Terancam Penjara, Greta Thunberg Lolos Setelah Bertahan di Kapal?

Selasa, 10 Juni 2025 - 14:22 WIB

Protes Imigran di New York Berujung Bentrok: Polisi Borgol Demonstran, Satu Orang Dilarikan ke RS

Sabtu, 8 Februari 2025 - 13:58 WIB

Sultan Brunei Darussalam dan Perdana Menteri Thailand Temui Presiden Tiongkok Xi Jinping di Beijing

Selasa, 24 Desember 2024 - 13:55 WIB

Mantan Presiden AS Bill Clinton Dirawat di Georgetown University Medical Center di Washington, Alami Demam

Berita Terbaru

logo

Pers Rilis

/C O R R E C T I O N — PayJoy/

Rabu, 11 Feb 2026 - 20:15 WIB