DPR Disindir, Lebih Banyak Tertutupnya Dari Terbukanya Soal RKUHP

- Pewarta

Selasa, 17 September 2019 - 02:54 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Adilmakmur.co.id, Jakarta – Dewan Perwakilan Rakyat disindir keseriusannya untuk meminta masyarakat terlibat aktif dalam pembahasan Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (RKUHP).

Sindiran itu disampaikan orator aksi selamatkan demokrasi yang digelar di depan gedung parlemen Republik Indonesia Jakarta, Senin.

“DPR mengajak kepada publik terlibat aktif, tapi banyak yang terbukanya atau justru banyak yang tertutupnya. Silahkan jawab sendiri DPR,” kata orator aksi, Lini Zurlia di Senayan Jakarta, Senin.

Perempuan yang saat ini menjabat sebagai petugas advokasi ASEAN Sogie Caucus itu sangat marah ketika mengetahui pembahasan RUU KUHP dilangsungkan secara tertutup di sebuah hotel bintang lima di Jakarta.

Padahal ia mengaku pihaknya sudah bertanya berkali-kali ke DPR mengenai perkembangan pembahasan RUU tersebut namun DPR masih tertutup sehingga pasal-pasal yang berpotensi memenjarakan warga negara ada terus sampai sekarang.

Lini yang bergabung dalam sejumlah massa Aliansi Masyarakat untuk Keadilan Demokrasi menolak pasal ‘ngawur’ tersebut dipertahankan.

Mereka juga menuntut penundaan pengesahan RKUHP di halaman depan pintu masuk gedung Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Senin.

Massa aksi membentangkan sejumlah poster sembari menandatangani poster berisi tulisan seruan aksi mereka menolak pasal ‘ngawur’ di RKUHP.

“RKUHP dapat Mengkriminalisasi Pengajaran Sains dan Logika #TundaRKUHP #HapusPasalNgawur,” tulis poster tersebut.

Tampak sejumlah mahasiswa beratribut Universitas Indonesia turut bersuara di sana. Mereka sepakat meminta RKUHP tidak dulu disahkan mengingat sejumlah pasal yang terdapat di dalamnya melanggar asas demokrasi.

“Menurut kami itu telah melanggar demokrasi di Indonesia,” ujar mahasiswa Vokasi UI, Aulia Fitriani.

Ia mencontohkan adanya pasal yang memperbolehkan pemerintah menangkap mahasiswa yang dianggap menghina Presiden. Ia menganggap rakyat memiliki hak untuk mengkritisi pemerintahnya.

“Maksud kami, jika kami ingin mengkritisi pemerintah kami, itu kan bisa ditangkap. Itu kan namanya melanggar demokrasi,” kata Aulia.

Selain itu, kemerdekaan mengemukakan pendapat rakyat yang dijamin dalam Undang-Undang Dasar 1945, akan sirna seiring berlakunya pasal-pasal tersebut. (abf)

Berita Terkait

Manfaat Green Mining bagi Lingkungan, Ekonomi, dan Masyarakat 
KPK Telusuri Aliran Dana Rp222 Miliar Kasus Bank BJB ke Ridwan Kamil dan Keluarga
PBB Pantau Protes Nasional, Ingatkan Indonesia Jaga Hak Warga Sipil
Bantuan Pangan Jadi Kunci Tekan Harga Beras Di Tengah Lonjakan Pasar
Uang Rakyat Harus Efisien, Prabowo Hapus Tantiem Komisaris BUMN
Angelica Tengker Kukuhkan Visi Budaya dan Bangsa Lewat KKK 2025–2030
Lukisan di Ranjang Sakit: SBY dan Istirahat Sang Jenderal Demokrat
Kejagung Tetapkan Jurist Tan Tersangka Korupsi Chromebook, Mangkir Pemeriksaan

Berita Terkait

Sabtu, 4 Oktober 2025 - 14:10 WIB

KPK Telusuri Aliran Dana Rp222 Miliar Kasus Bank BJB ke Ridwan Kamil dan Keluarga

Rabu, 3 September 2025 - 08:18 WIB

PBB Pantau Protes Nasional, Ingatkan Indonesia Jaga Hak Warga Sipil

Sabtu, 30 Agustus 2025 - 07:57 WIB

Bantuan Pangan Jadi Kunci Tekan Harga Beras Di Tengah Lonjakan Pasar

Sabtu, 16 Agustus 2025 - 08:47 WIB

Uang Rakyat Harus Efisien, Prabowo Hapus Tantiem Komisaris BUMN

Selasa, 5 Agustus 2025 - 09:03 WIB

Angelica Tengker Kukuhkan Visi Budaya dan Bangsa Lewat KKK 2025–2030

Berita Terbaru

logo

Pers Rilis

/C O R R E C T I O N — PayJoy/

Rabu, 11 Feb 2026 - 20:15 WIB