PANGLIMA TNI dan Kapolri
diperintahkan untuk berkantor di tanah Papua. Dua lembaga tinggi pertahanan dan keamanan itu diharapkan bisa segera mengatasi kasus kerusuhan di Papua dan Papua Barat.
Meski langkah ini terbilang terlambat, tapi kita berharap kasus Papua dan Papua Barat bisa segera teratasi. Dan seluruh masyarakat yang ada di sana bisa kembali menjalani kehidupannya dengan damai.
Terlambat? Bisa iya, bisa tidak. Namun banyak publik cenderung melihat seperti itu. Bahkan sangat mungkin ada embel-embel opini ikutannya. Cobalah tengok ke belakang, sedikit saja. Bandingkan pola penangan aparat saat menghadapi Aksi umat Islam 212. Sejak 2016 hingga 2019, mereka begitu reaktif dan offensif. Padahal dalam aksi yang melibatkan belasan juta umat Islam dan umat lainnya itu, tak sepatah pun terlontar pekik merdeka yang maknanya bisa diartikan : Lepas dari NKRI. Tak pernah ada kata begitu.
Puluhan ribu petugas dengan senjata lengkap dikerahkan. Tokoh-tokoh gerakan diawasi bahkan diamankan. Lebel makar tak ragu disematkan untuk siapa saja yang mendukung aksi itu. Entah itu Emak-emak, ulama, aktivis, bahkan anak-anak pun ditindak. Tak heran jika dari puluhan korban tewas, tiga orang di antaranya adalah anak-anak berusia 14-15 tahun.
Kalau saja cara mereka sama saat menangani aksi 212 dengan demo di Papua Barat dan Papua, maka kerusuhan diduga tidak akan terjadi. Bendera Merah-Putih tidak akan dibakar, tidak diturunkan di salah satu kantor pemerintahan daerah, dilipat dan menyerahkannya dilanjutkan mengerek bendera Bintang Kejora. Pun mungkin tidak ada anggota TNI yang tewas dengan cara mengenaskan.
Bagi kita, apa yang kita saksikan itu adalah cara Allah membuka tabir. Kasus Papua dan Papua Barat adalah cara Allah memperlihatkan suatu sebab akibat. Juga bahwa ketidakadilan itu ada dan nyata.
Acub Zainal
Kalau saja masih ada Mayjen TNI (Purn) Acub Zainal, mungkin Papua dan Papua Barat tidak akan bergolak dramatis. Bahkan, kita mungkin juga tak membutuhkan ribuan petugas keamanan.
Baca Juga:
Coda Luncurkan Kampanye Regional untuk Cegah Penipuan Daring bagi Pemain Gim
Saya jadi teringat pada Jendral, begitu sapaan akrab mantan Gubernur Irian Barat dan salah satu Ketua PSSI di era 1980 an. “Kekurangan kita adalah memanusiakan mereka,” katanya suatu hari di tahun 1986.
Jendral yang satu ini berkisah dengan kedua bola matanya berkaca-kaca. “Saya tak ragu tidur, makan bahkan mandi bersama mereka,” kenangnya. “Bahwa mereka masih banyak yang belum seperti kita, itu adalah keniscayaan yang justru harus kita angkat bukan sebaliknya.”
Masih kata Sang Jendral kala itu, “…orang-orang Irian itu sangat sederhana pola pikirnya.” Teringat kata-kata ini, saya pun saling cross-chek dengan sahabat saya Eddy Lahenko yang juga wartawan dan juga menjadi salah satu pendengar langsung ungkapan kalimat itu. Kami saling menerawang kenangan, memastikan cerita apa adanya. “Orang Irian itu sangat sederhana pola pikirnya. Gak neko-neko seperti kita. Mereka masih membutuhkan yang paling standar. Kalau kita kan beda,” katanya lagi.
Acublah tokoh yang ada di belakang gemilangnya Persipura Jayapura. Acub juga yang membuat olahraga Irian Barat jadi terpandang dan dipandang di kancah nasional. “Saya tak ragu memeluk mereka saat sukses merebut medali atau untuk menghibur saat mereka gagal. Saya tak ragu meski mereka penuh keringat dan tentu saja tidak sedap aromanya. Bagi saya, mereka adalah anak-anak saya, saudara-saudara saya, jadi tak saya perdulikan soal lain-lain itu!”
Baca Juga:
Ukuran Ringkas, Standar Tinggi: Otis Gen3™ Villa Homelift Terbaru Untuk Kenyamanan Hidup Sehari-hari
Manfaat Green Mining bagi Lingkungan, Ekonomi, dan Masyarakat
Tak heran, ketika tugas Acub Zainal berakhir, kegundahan terjadi di mana-mana. “Mereka mendatangi saya, meminta agar saya menolak purna tugas itu,” sekali ini ada air bening yang meleleh dari sudut matanya.
Mereka, masih kata Acub, meminta dirinya untuk melawan, memberontak. Jika perlu memimpin pelepasan Irian Barat dari Indonesia. Acub menolak dengan lembut. Padahal jika mengikuti emosi, ajakan itu bisa disambutnya. Konon ada catatan bahwa Acub Zainal diberhentikan dari jabatannya sebagai Gubernur Irian Barat karena persekongkolan kelompok tertentu yang ingin memanfaatkan Irian Barat sebagai objek operasi. Acub menentangnya, maka ia pun digulingkan. Wallahu a’lam.
“Saat saya akan meninggalkan Jayapura, ribuan orang menggendong saya, sambung-menyambung hingga bandara,” ceritanya waktu itu dengan suara mulai tersendat.
“Turunkan saya…,” pinta Acub kala itu. Tapi rakyat Irian justru menambah jumlah orang yang membopongnya. “Haram bapa, haram bapa
…” tukas mereka seperti ditirukan Acub. “Bapa orang baik, bapa tida boleh menginjak tanah lagi. Biar Bapa selalu di atas,” tukasnya lagi yang sekali ini tak kuasa menahan tangis.
Pesan Acub pada kami semua waktu itu : “Orang Irian itu orang yang sederhana. Mereka tidak rumit pola pikirnya. Tidak suka minta macam-macam. Mereka cuma minta kita menghargai mereka sama seperti kita menghargai orang-orang yang lain.”
Ketika saat ini terjadi gejolak di Papua dan Papua Barat, saya jadi bertanya, apakah lima tahun terakhir ini saudara-saudara kita sudah dihargai seperti ucapan Acub Zainal? Dan, bukankah 90 persen rakyatnya mendukung sosok sebagaimana yang tercatat di KPU ?
Lha, kooookkk ?
Entahlah…
[Oleh: M. Nigara. Penulis adalah Wartawan Senior Indonesia]







