Connect with us

HUKUM

Digugat Fara Luwia, Anak Usaha Wilmar Group Gagal Hadirkan Prinsipal untuk Mediasi

Published

on

Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. /Twitter.com/@PNjktpusat

ADIL MAKMUR – Sidang kasus gugatan Fara Luwia, pendiri PT. Lumbung Padi Indonesia, terhadap dua anak usaha Wilmar Group di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, berlangsung mengecewakan.

Pasalnya, pihak tergugat I PT Sentratama Niaga Indonesia (SNI), tergugat II PT Natura Wahana Gemilang (NWG) dan PT Lumbung Padi Indonesia (LPI) selaku turut tergugat, gagal menghadirkan decision maker (prinsipal) masing-masing yakni Wilmar Group, selaku induk usaha mereka.

Akibatnya, proses mediasi yang menjadi agenda utama persidangan menjadi terhambat. 

Sebagaimana jadwal persidangan, pada Kamis, 29 April 2021 di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat menggelar sidang gugatan Fara Luwia terhadap PT SNI, PT NWG dan PT LPI terkait pengambilalihan saham secara tidak sah dan melawan hukum.

Dalam proses persidangan tersebut, setelah pemeriksaan dokumen selesai dilakukan, Majelis Hakim mempersilahkan para pihak untuk masuk ke agenda sidang berikutnya yakni mediasi sebagaimana diatur dalam Peraturan Mahkamah Agung.

Namun demikian, proses mediasi terganjal lantaran Wilmar Group selaku prinsipal dari para tergugat tidak dapat dihadirkan di persidangan, sedangkan kuasa hukum pihak PT SNI dan PT NWG tidak mampu mengambil keputusan apapun dalam proses mediasi. 

“Terus terang harus kami sampaikan bahwa pihak tergugat tidak menghargai proses hukum yang sedang bergulir di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat karena pihak PT SNI dan PT NWG tidak dapat menghadirkan decision maker (principal) mereka yakni, Wilmar Group.”

“Padahal dari pihak kami sudah menghadirkan decision maker (principal) yakni Ibu Fara Luwia langsung di ruang persidangan, terlebih lagi gugatan kami sudah terdaftar sejak tanggal 26 Maret 2021.”

“Seharusnya dari pihak Wilmar Group sudah mengetahui adanya gugatan yang kami ajukan, akan tetapi pada hari ini pihak Wilmar Group tidak juga hadir menurut kuasa hukum mereka” kata Melky Pranata Koedoeboen, Kuasa Hukum Fara Luwia, seusai persidangan.

Menurut Melky, apabila Wilmar Group selaku decision maker (principal) dapat dihadirkan di persidangan, sejatinya proses mediasi dapat berlangsung dengan lancar.

“Menurut hemat kami, para tergugat juga terkesan buying time dan tidak memiliki itikad baik. Sebab, sidang perdana kasus ini sejatinya sudah dimulai dari tanggal 22 April 2021.”

“Akan tetapi, ketika itu Kuasa Hukum pihak SNI dan NWG tidak dapat menunjukkan kelengkapan dokumen sidang dan lebih parahnya lagi untuk perusahaan sekelas Wilmar Group ternyata baru menunjuk Kuasa Hukum 30 menit sebelum persidangan pertama dimulai,” imbuh Melky.

Seperti diketahui, SNI dan NWG digugat oleh Fara Luwia serta Farma International Pte. Ltd. terkait kasus dugaan pengambilalihan saham PT Lumbung Padi Indonesia (LPI) secara tidak sah dan melawan hukum melalui modus manipulasi penciptaan utang.

Melky memaparkan kasus tersebut bermula ketika pada 2017 PT. LPI mengalami kesulitan membayar utang kepada sejumlah kreditur yakni Maybank, Mattsteph Holding, Emerging Asia Capital Partners (EACP) dan TAEL Group. Keseluruhan nilai utang tersebut mencapai sekitar Rp286,8 miliar.

Dalam situasi tersebut, Darwin Indigo yang merupakan Country Head Wilmar International Ltd untuk Indonesia, menawarkan kerja sama bisnis kepada Fara Luwia dalam rangka pengembangan usaha sekaligus membantu menyelesaikan utang-utang tadi.

Namun, lanjutnya, setelah kerja sama disepakati, pada kenyataannya selama proses uji tuntas hukum (due diligence) dan audit keuangan terhadap PT. LPI, Fara Luwia tidak pernah dilibatkan dan tidak pernah diberikan informasi apapun. 

Belakangan baru diketahui bahwa utang-utang yang diciptakan tersebut bertujuan untuk mengambil alih 100% saham PT. LPI dan Fara Luwia harus terdepak dari perusahaan.

“Inilah salah satu dasar dan indikasi yang jelas bahwa para tergugat tidak punya iktikad baik dalam menjalin kerja sama bisnis di PT. LPI. Para tergugat jelas-jelas menikam dari belakang klien kami yang tidak lain adalah partner bisnisnya,” tegas Melky.

Menurut dia, iktikad tidak baik juga terindikasi dari nilai valuasi 100% saham PT. LPI yang tidak sesuai fakta, di mana tergugat menawarkan valuasi hanya sekitar Rp214,61 miliar.

Angka ini jauh lebih rendah dari pada hasil valuasi yang dilakukan oleh KJPP Areyanti Junita yang menyebut nilai pasar aset PT. LPI mencapai Rp280,21 miliar.

“Lebih aneh lagi, ketika 100% saham PT. LPI diambil alih oleh para tergugat, ternyata klien kami justru masih harus menanggung utang hingga Rp130,99 miliar yang harus dibayarkan kepada PT. SNI. Ini kan aneh,” jelasnya.

Melky menambahkan, tergugat juga mengingkari janji karena menutup opsi buyback atau pembelian kembali saham PT. LPI sebesar 49% oleh Fara Luwia. Padahal opsi buyback tersebut telah disepakati bersama dalam perjanjian.

“Klien kami sudah melakukan berbagai pendekatan melalui komunikasi dalam rangka mempertanyakan kembali opsi buyback atau pembelian kembali saham PT. LPI sebesar 49%.”

Padahal sepengetahuan pihak Darwin Indigo maupun Fara Luwia sama-sama menyadari bahwa cikal bakal PT. Lumbung Padi Indonesia kepemilikan mayoritas sahamnya adalah milik client kami.

Perlakuan-perlakuan ini merupakan bukti nyata bahwa Darwin Indigo sebagai oknum pengusaha asing bukan hanya berinvestasi dengan mencari keuntungan sebesar-besarnya di Indonesia.

“Tapi juga menjajah cita-cita seorang perempuan Indonesia yang selama ini berkecimpung cukup lama sebagai pengusaha di dalam negeri serta mengharumkan Indonesia di luar negeri” tegasnya. (tim)


Media Adilmakmur.co.id menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksiadilmakmur@gmail.com, dan redaksi@adilmakmur.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

HUKUM

Gugatan Pendiri Lumbung Padi Terhadap Wilmar Internatioal Ltd, Menjadi Trending Topic di Twitter

Published

on

Pertemuan PT LPI antara Fara Luwia (Ketiga dari Kiri) dengan (Keempat dari Kiri), Kuok Kun Hong selaku Chairman and CEO of Wilmar International di pabrik LPI Mojokerto, Jawa Timur, Agustus 2017. /Foto: istimewa

ADIL MAKMUR – Gugatan pengusaha Indonesia, Fara Luwia yang merupakan pendiri PT Lumbung Padi Indonesia kepada Wilmar International Ltd kian mendapat perhatian warganet Indonesia pada hari Kamis, 8 Juli 2021.

Selain Nia Ramadhani dan Ardi Bakrie yang juga menjadi trending topic twitter Indonesia ada juga muncul #WilmarDigugat di Twitter.

Gugatan tersebut dilayangkan kepada anak usaha Wilmar International yakni, PT Sentratama Niaga Indonesia (SNI) dan PT Natura Wahana Gemilang (NWG).

Perusahaan diduga melakukan pengambilalihan saham terhadap PT Lumbung Padi Indonesia, perusahaan pengolahan padi dan beras modern terpadu yang didirikan Fara Luwia di Mojokerto, Jawa Timur, pada 2009.

Fara Luwia mengaku telah dicurangi oleh para tergugat dengan cara-cara yang jauh dari prinsip good corporate governance.

Sehingga perusahaan pengolahan padi dan beras yang didirikannya justru diambil alih, padahal usaha itu demi memajukan dan meningkatkan kesejahteraan petani di Jawa Timur,

Menanggapi hal ini warganet lantas banyak yang menyoroti kasus wilmar ini dan memberi dukungan kepada founder PT Lumbung Padi Indonesia

Pages: 1 2


Media Adilmakmur.co.id menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksiadilmakmur@gmail.com, dan redaksi@adilmakmur.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

HUKUM

Jalan Terbaik, Jika Utang BUMD Pemkab Bogor PPE Segera Bisa Segera Dilunasi

Published

on

ADIL MAKMUR – Advokat Rohmat Selamat  SH MKn meminta Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Pemkab Bogor, PT Prayoga Pertambangan dan Energy (PPE) segera menyelesaikan utang terhadap kreditur.

Rohmat Selamat  SH MKn  dan Tuti Maulani Chaniago SH adalah kuasa Hukum dari PT Tohaga Jaya dan CV Mutiara Selatan, yang menjadi suplayer BUMN PPE.

“Sebaiknya PPE segera menjual asetnya agar permasalahan utang ini bisa cepat selesai,” kata Rohmat Selamat SH MKn.

Pihak suplayer juga tidak menginginkan lebih lama lagi untuk menunggu penyelesaian perkara ini.

“Kami berikan waktu tiga bulan untuk segera menjual aset dan melunasi semua tagihan Klien Kami,” katanya.

Menurut Rohmat, itulah jalan terbaik bagi PPE untuk menjalankan roda bisnisnya agar lebih optimal lagi.

Sementara itu Direktur PPE Agus Setiawan, SH MH dalan sidang PKPU (Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) menyatakan bahwa manajemen PPE akan melunasi utangnya 

“Utang para kreditor itu utang yang lama, hak mereka untuk menagih,  dan kapan PPE bayar akan dilakukan,” katanya, setelah sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Kemayoran, Jakarta, Rabu, 9 Mei 2021.

“Sampai sejauh ini para kreditor dapat diyakinkan bahwa potensi aset perusahaan yang dimiliki dapat menutupi utang tersebut,” katanya.

Dia juga menjelaskan, bahwa pertemuan di pengadilan ini dapat diselesaikan secara musyawarah walaupun lewat pengadilan. 

“Untuk proposal perdamaian sudah ada dalam prosedur Undang – Undang, dan berharap hari ini ada homologasi. Tetapi banyak dari para kreditor untuk meminta waktu berembuk.”

“Sedangkan laporan dari Kantor Akuntan Publik utang PPE epada kreditor kurang lebih Rp 28 miliar.”

“Saya berharap adanya perdamaian, agar bisnis dapat berjalan kembali.” Imbuh Agus Setiawan saat dicegat awak media. (tim)


Media Adilmakmur.co.id menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksiadilmakmur@gmail.com, dan redaksi@adilmakmur.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

HUKUM

Dibalik Gugatan Fara Luwia terhadap Anak Usaha Konglomerat Wilmar Group, Ada Cerita Ini

Published

on

Fara Luwia dan Chairman and CEO of Wilmar International Kuok Kun Hong di pabrik Lumbung Padi Indonesia, Mojokerto, Jawa Timur pada Agustus 2017. /Dok. Lumbung Padi

ADIL MAKMUR – Kejadian pahit dalam berbisnis harus dialami pengusaha Indonesia, dia harus memperjuangkan haknya dengan mengguggat anak usaha Konglomerat Wilmar Group.

Fara Luwia,  pengusaha perempuan di bidang pertanian yang kini sedang berjuang untuk melawan anak usaha perusahaan internasional yang bergerak di bidang agribisnis, Wilmar Group.

Fara menuturkan ia memulai usaha pertanian dengan mendirikan PT Lumbung Padi Indonesia. Awalnya teman-temannya sudah berpesan kepada Fara agar tidak menggeluti usaha pertanian karena sangat sulit. 

Namun Fara tak patah semangat ia kemudian tetap mendirikan PT Lumbung Padi Indonesia.

“Rekan-rekan saya bilang ke saya kalau bangun usaha pertanian apalagi yang modern itu susah, tapi saya yakin Indonesia harus menjadi raja di negerinya sendiri.”

“Ini bukan hanya soal usaha pertanian tapi juga upaya untuk memberdayakan dan membantu petani Indonesia agar semakin maju,” terang Founder Lumbung Padi Indonesia, Fara Luwia di Jakarta, Selasa, 8 Juni 2021.

Namun perkembangan ini kemudian harus terhambat karena permasalahan yang bermula dari kerjasama antara PT Lumbung Padi Indonesia dengan anak usaha Wilmar Group pada tahun 2017. 

Kerjasama ini dimaksudkan untuk mengembang lebih jauh usaha PT Lumbung Padi Indonesia untuk agar dapat meningkatkan produksi dan kesejahteraan petani sebagai mitra perusahaan.

“Setelah bekerjasama saya mencium ada upaya mengambil alih perusahaan ini.”

“Modusnya mengiming-ngimingi saya dengan modal tambahan namun saya perlu menyerahkan saham kepemilikan saya dulu yang nanti bisa di buy back kembali.”

“Nyatanya setelah saya lakukan ini tidak ada modal yang disetorkan dan ketika saya ingin buy back kembali saham saya malah dipersulit dengan alasan yang tidak profesional.”

“Belakangan saya mengalami bahwa dokumen-dokumen milik saya, ditahan dengan alasan Wilmar belum bayar notaris, pegawai cuti hamil dll.
Ini  pengambilalihan perusahaan dengan cara yang tidak sah,” ungkap Fara.

Tak terima dengan kecurangan ini, Fara masih berusaha secara diskusi baik-baik, tetapi anak usaha Wilmar tetap tidak punya itikad baik. 

Sampai kemudian akhirnya Fara mengajukan gugatan kepada pihak-pihak yang terlibat dalam pengambilalihan perusahaan secara tidak sah dan melawan hukum. 

Hingga kini proses persidangan gugatan telah dilakukan namun mediasi tidak dapat dilakukan karena tidak hadirnya perwakilan Wilmar Group sebagai penentu kebijakan pihak-pihak yang digugat.

“Saya akan berjuang, ini persoalan martabat bangsa kita. Jangan sampai pengusaha lokal kita ditindas oleh pengusaha asing yang lebih kuat.”

“Wilmar banyak uang dan kaya, memiliki ratusan pabrik seluruh dunia. Kenapa hanya 1 pabrik saya dan juga piring nasi saya, mereka masih mau rebut juga.”

“Mereka konglomerat Singapore, sedangkan saya hanya seorang single mother selama hampir 24 tahun, hanya besarkan anak dan bekerja saja,” kata Fara.

“Jangan sampai asing menguasai kita,” katanya. Perjuangan ini juga untuk memperjuangkan masa depan pertanian bangsa Indonesia yang berdaulat.

Padahal Fara mempunyai mimpi untuk bangun bisnis di bidang pertanian dan membantu lebih banyak petani. Sebelumnya ia fokus di industri properti.

“Awalnya tentu saya membuat perencanaan bisnis pertanian yang akan dijalani, karena saya bermimpi untuk mendirikan pengolahan padi modern yang berstandar internasional.”

“Saya juga harus mencari lokasi yang tepat untuk pembangunan pabrik dan perusahaan nanti, tentu ada banyak pertimbangan tapi saya melihat jumlah petani yang potensial untuk kita saling kerjasama,” kata Fara.
 
“Semua persiapan ini saya lakukan sendiri dengan usaha dan keringat saya” tambahnya.

Usahanya tidak sia-sia, pada tahun 2009 Badan Usaha atas nama PT Lumbung Padi Indonesia resmi berdiri di Desa Jasem, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. 

Fara juga kemudian menggandeng Satake Corporation Japan sebagai pemasok utama mesin-mesin dan peralatan di pabrik pengolahan gabah. 

Tak cukup sampai disana, dalam mendirikan pabrik perusahaan ia juga bekerja sama dengan pengusaha-pengusaha lokal seperti PT Agro Indo Mandiri dan PT Praba Indopersada.

PT Lumbung Padi Indonesia yang Fara Luwia dirikan kemudian berhasil mengeluarkan lini beras premium dengan merek Beras Prima dan merek Lumbung Padi Indonesia.

Mitra petani yang bekerjasama juga semakin bertambah setiap bulannya.*


Media Adilmakmur.co.id menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksiadilmakmur@gmail.com, dan redaksi@adilmakmur.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

Trending