Connect with us

LIFESTYLE

Mengenal Jenis Vaksin Flu untuk Orang Dewasa

Published

on

Doctor, patient and injection needle. Physician or nurse giving vaccine, flu or influenza shot in office room in hospital. Immunity, health care or HPV concept. Medical professional working.

ADIL MAKMUR – Flu merupakan penyakit yang seringkali diderita sebagian besar masyarakat. Meskipun masuk dalam kategori penyakit ringan nama penyakit flu atau influenza merupakan penyakit yang cukup mengganggu dan dapat menimbulkan masalah besar untuk sebagian orang karena aktivitasnya yang terganggu akibat penyakit influenza tersebut. Pada penderita penyakit flu atau influenza biasa akan mengalami gangguan pernapasan seperti pilek dan hidung tersumbat yang cukup mengganggu.

Gejala-gejala lain yang ditimbulkan pada orang yang terjangkit virus influenza yaitu mengalami batuk kering, demam, lemas, nyeri otot, dan sakit kepala. Untuk itu pemberian vaksin influenza juga sangat penting dilakukan kepada orang dewasa, meskipun biasanya vaksin jenis ini digunakan untuk imunisasi pada anak-anak.

Seperti yang dilansir dari Centers for Disease Control and Prevention CDC), pemberian vaksin influenza bertujuan untuk mencegah tubuh terserang virus influenza yang biasanya sangat mudah menular. Penularan virus influenza dapat melalui percikan air liur atau melakukan kontak fisik dan barang penderita penyakit tersebut yang terkontaminasi virus influenza.

Tentang Vaksin Influenza Jenis dan Efek Samping yang Ditimbulkan

Healthcare concept with a hand in blue medical gloves holding Flu, Influenza, vaccine vial.

Pemberian vaksin influenza memang tidak sepenuhnya dapat melindungi tubuh dari ancaman virus influenza. Namun dengan melakukan pemberian vaksin influenza dapat mencegah dan melindungi tubuh terhadap infeksi virus influenza. Pada umumnya vaksin flu diberikan setiap tahun untuk mencegah tiga hingga empat jenis penyakit flu.

Vaksinasi tersebut dapat dilakukan untuk anak-anak, orang dewasa, hingga manula. Pemberian vaksin flu rutin setiap tahun bertujuan untuk menghindari komplikasi lain yang dapat berdampak buruk akibat penyakit flu. Untuk mengetahui lebih lanjut tentang jenis-jenis vaksin flu, berikut ini dua jenis vaksin influenza:

  1. Vaksin Influenza Trivalen, merupakan vaksin flu yang dibuat untuk melindungi tubuh dari serangan tiga jenis virus flu yang berbeda-beda.
  2. Vaksin Influenza Quadrivalent, vaksin jenis ini digunakan untuk melindungi tubuh dari empat jenis virus yang berbeda pula.

Awalnya semua vaksin flu hanya dapat melindungi tubuh dari tiga jenis virus influenza yaitu dua virus influenza tipe A dan satu virus influenza tipe B. Namun, pada vaksin influenza trivalen hanya mampu mencegah satu jenis virus influenza tipe B, karena sebab itu para peneliti membuat vaksin quadrivalent yang dapat melindungi tubuh dari empat jenis virus influenza sekaligus.

  1. Orang yang disarankan untuk mendapatkan vaksin influenza ini biasanya orang yang termasuk dalam kategori berikut:
  2. Orang yang berusia di atas 50 tahun karena memiliki kekebalan tubuh yang cukup lemah dibanding dengan orang berusia muda.
  3. Orang-orang yang memiliki riwayat penyakit kronis seperti penyakit paru-paru kronis (asma), ginjal, hati, kelainan metabolisme (diabetes mellitus), kardiovaskular, neurologis, dan hematologis.
  4. Orang yang mengalami imunosupresif yang disebabkan oleh pengobatan atau memiliki riwayat terjangkit HIV.
  5. Perempuan hamil dan perempuan pasca persalinan disarankan melakukan vaksinasi virus influenza.
  6. Orang yang mengalami obesitas ekstrim yaitu memiliki indeks massa tubuh lebih dari 40.
  7. Petugas medis yang mudah terpapar virus influenza.

Setelah membahas siapa saja orang-orang yang disarankan untuk mendapatkan vaksin influenza. Selanjutnya mari membahas tentang efek samping yang ditimbulkan pasca pemberian vaksin flu tersebut. Berikut ini efek samping yang dapat dialami:

  1. Terasa nyeri, terjadi pembengkakan, dan warna kemerahan di sekitar bekas suntikan.
  2. Mengalami demam, mual, kesulitan bernapas, dan suara menjadi serak.
  3. Terjadi pembengkakan di sekitar mata atau bibir.
  4. Badan terasa lelah, pusing dan wajah terlihat pucat.
  5. Jantung terasa berdebar-debar.
  6. Sakit tenggorokan dan hidung meler atau pilek.

Jika Anda mengalami salah satu dari beberapa efek samping tersebut setelah melakukan vaksinasi influenza segera melakukan konsultasi dengan dokter agar diberikan penanganan yang tepat agar efek samping yang timbul tidak menjadi semakin parah. Untuk menghindari dari paparan virus influenza Anda dapat mengurangi kontak dengan penderita flu, makan makanan sehat, dan gunakan masker untuk menghindari virus influenza tersebut.

Untuk mendapatkan informasi seputar kesehatan yang akurat dan terpercaya. Halodoc akan memberikan Anda informasi-informasi seputar dunia kesehatan yang terpercaya dan terlengkap. Tidak hanya itu, Halodoc juga dapat mempertemukan Anda dengan para dokter ahli untuk melakukan konsultasi seputar kondisi kesehatan Anda dengan lebih mudah dan praktis.

Pada aplikasi Halodoc juga terdapat fitur yang membantu Anda menemukan lokasi vaksin terdekat dengan rumah Anda. Misalnya bagi Anda yang tinggal di Kota Medan dan ingin melakukan vaksinasi influenza, maka Anda bisa mencari kata kunci “vaksin Medan” di Halodoc. Setelah itu akan muncul berbagai informasi lokasi, jenis vaksin, dan harga vaksin yang Anda butuhkan.***


Media Adilmakmur.co.id menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksiadilmakmur@gmail.com, dan redaksi@adilmakmur.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

LIFESTYLE

Sudah Tahu Istilah Pembatasan Sosial Berskala Mkro atau PSBK?

Published

on

Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19, Prof. Wiku Adisasmito. (Foto : Instagram @wikuadisasmito)

Adilmakmur.co.id, Jakarta – Terkait penerapan Pembatasan Sosial Berskala Mikro (PSBM) yang banyak dibicarakan di tengah-tengah masyarakat, Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Prof. Wiku Adisasmito menjelaskannya saat menjawab pertanyaan media dalam jumpa pers di Kantor Presiden, Selasa (15/9/2020).

Apabila ada kluster atau sekumpulan kasus teridentifikasi pada wilayah-wilayah lebih kecil dari kabupaten/kota, misalnya kecamatan, kelurahan atau RT/RW tertentu, maka itu bisa dilakukan pengendalian langsung.

Sehingga pada daerah itu tidak terjadi mobilitas penduduk ke daerah lainnya dan penanganannya bisa fokus pada daerah dengan komunitas tersebut. 

“Dan ini diharapkan pada provinsi-provinsi prioritas tersebut betul-betul bisa dilakukan pengendalian terbaik, dengan kerjasama seluruh aparat baik dari pemerintah daerah maupun dari Polri dan TNI, sehingga dapat ditangani dengan tuntas,” tegasnya. 

Selain itu Wiku juga menjelaskan kondisi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di DKI Jakarta saat ini. Melihat dalam 5 minggu terakhir, kondisi peta zinasinya berada di zona merah (merah) dan oranye (sedang).

 Saat ini ada pembatasan-pembatasan ketat yang dilakukan Pemda DKI Jakarta. 

“Kita lihat kondisi seperti itu akhir dilakukan pembatasan lebih ketat agar kondisinya bisa terkendali lebih baik. Ini adalah proses yang harus dilakukan, perlu adanya gas dan rem, yaitu memastikan apabila kasusnya meningkat dan mulai tidak terkendali dan berjalan cukup lama, maka perlu pengetatan pada aktivitas tertentu yang berkontribusi pada peningkatan kasus tersebut. 

Maka perlu dilakukan melalui proses pertama, pra kondisi, timing, prioritas, koordinasi pusat dan daerah dimana Satgas Penanganan Covid-19 terlibat sehingga dilakukan pengetatan yang lebih pada DKI Jakarta. 

“Dan ini tidak tertutup juga untuk seluruh daerah di Indonesia apabila kondisinya yang zona merahnya berlangsung selama beberapa Minggu. Ini adalah alarm, maka harus dilakukan reaksi pengendalian yang lebih ketat,” tegas Wiku. 

Karena itulah Presiden Joko Widodo menugaskan Wakil Ketua Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional Luhut Binsar Panjaitan dan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Doni Monardo bekerjasama dengan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto untuk terlibat dalam penanganan hingga ke tingkat daerah.   

Ia mengingatkan masyarakat untuk menyadari bahwa pandemi Covid-19 belum berakhir. Pemerintah pusat dan daerah termasuk masyarakatnya harus bekerjasama disiplin menjalankan protokol kesehatan agar tidak terjadi penularan yang tidak terkendali.  

“Semakin banyak yang bisa menjalankan protokol kesehatan secara konsisten, maka itu adalah kunci kita menekan kasus yang ada,” tutupnya. (tim)


Media Adilmakmur.co.id menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksiadilmakmur@gmail.com, dan redaksi@adilmakmur.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

LIFESTYLE

Pentingnya Melakukan Imunisasi Sebagai Langkah Awal Melawan COVID-19

Published

on

Imunisasi biasanya dilakukan di puskesmas dan posyandu. (Foto : pixabay.com)

Adilmakmur.co.id, Jakarta – Imunisasi telah disepakati sebagai salah satu hal yang penting untuk dilakukan sejak dini. Melakukan imunisasi dianggap sebagai langkah awal dalam melawan virus COVID-19. Oleh karena itu, imunisasi menjadi prioritas nasional dan standar minimum beban kewajibannya pemerintah daerah. 

Beradaptasi dengan kebiasaan baru imunisasi tidak perlu diperdebatkan apakah merupakan suatu yang penting ataupun tidak. Saat ini kendala dalam melakukan imunisasi hanya bagaimana cara dalam mengatur operasionalnya. Tentu saja hal ini berhadapan dengan COVID-19 yang harus tetap menerapkan protokol kesehatan.

Imunisasi biasanya dilakukan di puskesmas dan posyandu. Selain itu, sekolah-sekolah juga biasanya melakukan imunisasi terhadap murid-muridnya. Dengan adanya pandemi,  melakukan imunisasi sekarang dilakukan dengan cara yang berbeda.

Achmad Yurianto selaku Direktur Jenderal P2P Kementerian Kesehatan menyatakan bahwa masyarakat Indonesia harus memahami bahwa anak-anak itu merupakan masa depan yang harus dijaga kesehatannya. Untuk itu pemerintah harus menyiapkan fasilitas, layanan dan supplynya. Lalu memberikan kebebasan untuk mereka memilih yang dirasakan nyaman sehingga tidak ada alasan untuk menunda imunisasi.

“Kita menginginkan mereka menjadi generasi yang sehat dan sumber daya yang unggul, oleh karena itu kita harus sepakat bahwa ini adalah aset yang harus kita jaga dan merupakan hak semua anak untuk sehat. Salah satu upaya kita yaitu upaya prevention adalah imunisasi” ujarnya melalui ruang digital di Media Center Satuan Tugas Penanganan COVID-19, Jakarta (31/8).

Adapun kesulitan distribusi vaksin ke beberapa daerah sekarang sudah mulai lancar dan dapat teratasi. Selain itu beberapa vaksin yang berasal dari luar negeri atau impor pun sekarang sudah bisa masuk.  

Dalam kesempatan yang sama Prof. DR. dr. Hartono Gunadi Sp. A(K) selaku Ketua Bidang Hubungan Masyarakat dan Kesejahteraan Ikatan Dokter Anak Indonesia melalui Via Zoom juga menambahkan bahwa IDAI telah melakukan kampanye lewat media sosial mengenai berbagai panduan imunisasi pada saat masa pandemi Covid-19. 

Selain itu IDAI juga memastikan dokter yang melakukan praktek mendapatkan fasilitas yang memadai.

“Bila ada kekurangan, tentu anggota IDAI yang berpraktek di fasilitas kesehatan tersebut, dapat mengkomunikasikannya kepada komite medik. Misalnya hanya disediakan masker bedah, padahal menurut kajian IDAI itu tidak cukup, jadi kami menyediakan APD level 2, termasuk hal lainnya seperti face shield” ungkapnya.

Selain itu Dr. Kenny Peetosutan selaku Spesialis Imunisasi UNICEF Indonesia juga ikut menambahkan bahwa akan menjadi suatu hal yang mengkhawatirkan bila cakupan imunisasi masih tergolong rendah.

“Akan menjadi kekhawatiran kita bersama bila cakupan imunisasinya rendah untuk waktu yang cukup lama. Ada kemungkinan penyakit-penyakit yang seharusnya bisa dicegah itu kembali ke permukaan. Untuk penyakit yang bisa menular akan dapat menular dengan cepat. Akan sangat mengkhawatirkan bila nantinya menjadi wabah dan akan sangat sulit untuk menangani wabah pada saat pandemi ini” ujarnya.

Anak-anak yang melakukan imunisasi sejak dini agar terhindar dari berbagai penyakit yang dapat menyebabkan kematian. Untuk itu sangat penting untuk masyarakat mengetahui hal ini dan diminta untuk tidak khawatir melakukan imunisasi di Puskesmas atau rumah sakit. (jbr)


Media Adilmakmur.co.id menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksiadilmakmur@gmail.com, dan redaksi@adilmakmur.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

LIFESTYLE

Beginilah Sejarah Penggunaan Masker di Dunia, Sudah Tahu?

Published

on

Masker merupakan alat pelindung diri dari Covid-19 yang wajib dimiliki oleh seluruh masyarakat. (Foto : pixabay.com)

Adilmakmur.co.id, Jakarta – Saat ini masker telah menjadi salah satu kebutuhan setiap orang yang sangat penting keberadaannya. Demi aman dari COVID-19 setiap orang harus menggunakan masker jika hendak berpergian keluar rumah. Sejarah mengatakan masker sudah sedari dulu digunakan masyarakat dunia terlebih ketika menghadapi suatu wabah.

Salah seorang sejarahwan, Bonnie Triyana mengatakan masker tertua yang dapat terlacak dimulai di Eropa pada abad ke-17 yang berbentuk seperti burung dan digunakan untuk menghadapi penyakit yang sedang melanda pada saat itu.

“Masker ini digunakan karena memang waktu itu juga ada wabah ya menghindari penyebaran penyakit dari udara dan di dalam paruhnya itu biasanya diisi sama herbs gitu jadi kayak rempah,” ujar Bonnie pada talkshow di Graha BNPB, Jakarta, Jumat (28/8/2020).

Masker-masker pada saat itu belum seperti sekarang, Bonnie mengatakan dahulu masker dibuat dari bahan-bahan seperti wol tipis hingga bahan-bahan lain yang tersedia di zamannya.

“Maskernya itu terbuatnya dari ya seadanya bikinnya, seadanya itu misalkan dari rajutan bahan rajutan kaos kaki atau dari perban atau dari kain kasa,” terang Bonnie.

Bonnie menyebutkan bahwa bentuk masker pada saat wabah Flu Spanyol sudah mulai berubah hampir menyerupai bentuk masker saat ini.

“Sudah agak berubah jadi gak kayak paruh burung lagi, jadi bentuknya itu yang kalau kita lihat ini hampir mirip-mirip karena dia (masker saat itu) bisa bergerak gitu jadi kalau berbicara bisa gerak-gerak,” sebutnya.

Berkaca dari sejarah, respons dari masyarakat terhadap penggunaan masker berubah-ubah dan bervariasi. Mengambil contoh masyarakat di Amerika Utara yang menerima penggunaan masker dan masyarakat di Kanada yang tidak menghiraukan penggunaan masker.

“Kalau di Amerika Utara mereka menerima itu sebagai sebuah kewajiban dan cara untuk menjaga apa solidaritas kemanusiaan supaya mencegah penyebaran ya apa wabah pandemi Flu Spanyol. Nah kalau di Kanada ini responsnya beda lagi, walaupun mandatory diwajibkan mereka bandel, mereka tidak memakai, di salah satu tulisan disebutkan kalau ada polisi baru dipakai jadi kalau ada razia gitu baru dipakai, tingkat kesadarannya tuh rendah karena mereka merasa tidak nyaman dan menganggap masker itu suatu hal yang aneh,” ucap Bonnie.

Bonnie menjelaskan bahwa respons dari masyarakat dapat berbeda-beda yang mana respons tersebut sangat dipengaruhi oleh pemahaman dan pengetahuan mereka terhadap wabah yang tengah terjadi.

“Kalo melihat sejarah kebanyakan respons dari masyarakat itu kan sangat tergantung pada tingkat pemahaman mereka yang juga sangat tergantung pada pengetahuan mereka atas wabah yang terjadi itu, semakin mereka tidak tahu kan semakin mereka abai,” jelasnya.

Bonnie turut menceritakan bahwa upaya pemerintah Indonesia atau Hindia Belanda dalam mengatasi wabah Flu Spanyol saat wabah tersebut melanda Indonesia atau Hindia Belanda yaitu melalui pendekatan seperti wayang, pamflet yang mengadaptasi kisah Ramayana, serta pendekatan lainnya yang mempertimbangkan budaya setempat.

“Justru pemerintah Hindia Belanda saat itu mencoba menggunakan pendekatan kultur budaya untuk mensosialisasikan bahayanya penyakit ini dan untuk mensosialisasikan bagaimana upaya pencegahannya,” tuturnya.

Bonnie tidak menemukan sejarah yang menjelaskan mengenai penggunaan dan manfaat masker di Indonesia pada saat itu, namun ia mengatakan tindakan seperti lockdown atau PSBB sudah pernah diterapkan.

“Tapi kalau cara-cara untuk mencegah misalkan dalam bahasa sekarang lockdown atau PSBB itu juga dulu ada pernah ada tindakan demikian, misalkan satu desa kalau ada yang kena wabah itu tidak boleh kemana-mana harus tetap tinggal di rumah itu sudah ada,” tambahnya.

Dalam meningkatkan kesadaran dari masyarakat mengenai kondisi saat ini, Bonnie mengatakan bahwa dibutuhkan cara-cara yang lebih kreatif dan menyenangkan terlebih jika akan menyampaikannya ke anak muda. Selain materi, medium dan cara menyampaikan sebuah pesan juga penting untuk diperhatikan.

“Mensosialisasikan pengetahuan mengenai wabah ini sendiri itu harus terus diberikan dengan cara yang kreatif mungkin buat anak muda dan yang tentu saja yang masif gitu ya, banyak anak muda sekarang kan kalau dikasih cara yang membosankan gitu mereka gasuka,” tegasnya.

Menutup dialog, Bonnie mengimbau masyarakat untuk menjaga kesehatan melalui cuci tangan, menjaga sanitasi, dan tidak melakukan kegiatan yang berisiko menyebarkan COVID-19 seperti kumpul-kumpul.

“Tapi mungkin pentingnya sekarang kerja sama komunitas kemudian dengan pemerintah sama-sama untuk mendorong kesadaran masyarakat di dalam mencegah COVID ini ya tidak hanya soal pakai masker tapi juga apa namanya cuci tangan, menjaga sanitasi, kemudian juga tidak melakukan hal-hal yang berpotensi ke arah penyebaran,” tutup Bonnie. (npb)


Media Adilmakmur.co.id menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksiadilmakmur@gmail.com, dan redaksi@adilmakmur.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

Trending