Connect with us

HUKUM

Amandemen UUD Tidak Mungkin Melenceng Kemana-Mana

Published

on

Anggota Badan Pengkajian MPR RI, Bambang Sadono.

Adilmakmur.co.id, Yogyakarta – Anggota Badan Pengkajian MPR RI Bambang Sadono meyakinkan rencana amandemen kelima terhadap Undang-Undang Dasar (UUD) RI 1945 tidak akan mungkin melenceng kemana-mana seperti yang dikhawatirkan sejumlah pihak.

Bambang Sadono, di sela kegiatan Festival Konstitusi dan Anti Korupsi 2019 di Yogyakarta, Selasa (10/9/2019), mengatakan, perubahan tidak akan melenceng, meluas atau melebar dari tujuan awal karena semuanya telah diatur Pasal 37 UUD. Dalam aturan itu, perubahan dilakukan secara adendum dengan menyebutkan pasal atau ayat yang akan diubah, alasan perubahannya dan rumusan baru setelah perubahan.

“Jadi tidak mungkin terjadi, apalagi semua itu syaratnya harus disepakati dari separuh dari dua pertiga (anggota MPR) yang hadir, kalau tidak lebih dari itu tidak mungkin amandemen akan dibahas,” kata dia.

Rancana amandemen tersebut, kata dia, telah disetujui oleh fraksi-fraksi yang ada di MPR, sekarang keputusan amandemen bisa bergulir ke tahap selanjutnya jika para pimpinan parpol memberi “lampu hijau”.

“Fraksi di MPR sudah setuju, tinggal mereka bagaimana menyampaikan kepada pimpinan partai, karena yang mengusulkan ke MPR itu nantinya ya para anggota (sesuai keputusan pimpinan partai), sampai sekarang belum ada usulan itu,” katanya.

Sebelumnya, Badan Pengkajian MPR telah menyiapkan amandemen terbatas mengenai pokok-pokok haluan negara yang telah disempurnakan dan konsepnya akan dibagi ke fraksi-fraksi untuk disempurnakan lebih lanjut.

MPR telah menyepakati perlunya haluan negara seperti Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) yang dimasukkan dalam konstitusi lewat amendemen terbatas UUD.

Sejumlah pihak khawatir rencana amandemen terbatas tersebut nantinya tidak hanya mengenai gagasan haluan negara saja tapi merambah pada pasal-pasal lainnya. (blw)


Media Adilmakmur.co.id menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksiadilmakmur@gmail.com, dan redaksi@adilmakmur.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

HUKUM

Kasus Pembobolan Rekening Ilham Bintang, Polisi Panggil Indosat

Published

on

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol, Yusri Yunus.

Adilmakmur.co.id, Jakarta – Polda Metro Jaya mengagendakan pemanggilan terhadap pihak Satelindo atau Indosat terkait kasus dugaan pembobolan rekening wartawan senior, Ilham Bintang.

“Hari ini penjadwalan (pemanggilan) dari satelindo, rencana manajemen satelindo diminta untuk diklarifikasi,” ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Yusri Yunus di Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Senin (27/1/2020).

Ilham sebagi korban telah menjalani pemeriksaan. Nantinya, polisi juga akan memeriksa sejumlah saksi lainnya. Salah satunya ialah pihak Bank Commonwealth, yang dijadwalkan diperiksa pada Kamis (30/1/2020).

“Nanti setelah terkumpul semua (hasil pemeriksaan saksi), kita gelarkan (perkara),” kata Yusri.

Untuk diketahui, Ilham Bintang melaporkan kasus dugaan pembobolan rekening miliknya yang saldonya ditransfer ke hampir seratus rekening.
Adapun laporan Ilham teregister dengan nomor laporan LP/349/I/Yan2.5/2020/SPKTPMJ. Ilham juga telah menunjuk Elza Sjarief sebagai kuasa hukumnya.

Sebelumnya, kronologis pembobolan rekening yang dialami oleh Ilham Bintang telah ia ceritakan melalui akun Facebook pribadinya.

Disebutkan, pembobolan rekening Ilham dilakukan orang tak dikenal melalui pencurian nomor kartu Indosat miliknya, saat ia berpergian ke luar negeri. (ini)


Media Adilmakmur.co.id menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksiadilmakmur@gmail.com, dan redaksi@adilmakmur.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

HUKUM

Harun Masiku Makin Sakti, KPK Bilang Seperti Cari Jarum dalam Sekam

Published

on

Ketua KPK, Firli Bahuri.

Adilmakmur.co.id, Jakarta – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kewalahan mencari tersangka kasus suap komisioner KPU, Harun Masiku.

Mungkinkah Harun Masiku memiliki kesaktian atau KPK yang semakin tumpul dalam memburu politikus PDIP itu?

Harun Masiku sudah berada di Jakarta sejak 7 Januari 2020. Namun, hingga kini KPK belum mengetahui keberadaanya.

KPK telah bekerjasama dengan Polri untuk memburu Harun Masiku. KPK dan Polri telah mencari ke sejumlah wilayah, namun Harun Masiku tak kunjung ditemukan.

“Kami sudah cari ke semua wilayah yang ada indikasi ada tempat persembunyiannya. Apakah di Sulawesi? Apakah di Sumatera Selatan? Sudah kita lakukan semua. Tapi belum ada dan belum ketangkap,” ujar Firli di Gedung DPR, Jakarta, Senin (27/1/2020).

Firli mengatakan mencari buronan tidaklah mudah. Sehingga lembaga antirasuah ini akan terus mencari keberdaan politikus PDIP tersebut.
‎”Mencari orang itu enggak gampang memang ya, itu sama dengan cari jarum dalam sekam,” katanya.

Namun demikian, Firli berjanji akan menangkap Harun Masiku jika keberadaanya sudah diketahui. Harun Masiku harus mempertangung jawabkan perbuatannya. ‎”Jadi pasti akan ketangkap,” ungkapnya.

Sebelumnya, Dirjen Imigrasi Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham), Ronny Sompie mengatakan Harun Masiku telah berada di Indonesia sejak Selasa (7/1) lalu.

Harun yang merupakan buronan lembaga itu melintas masuk ke Jakarta melalui Bandara Soekarno Hatta menggunakan pesawat Batik Air.

“Saya telah memerintahkan kepada Kepala Kantor Imigrasi Kelas 1 Khusus Bandara Soeta dan Direktur Sistem Informasi dan Teknologi Keimigrasan Ditjen Imigrasi untuk melakukan pendalaman terhadap adanya delay time dalam pemrosesan data perlintasan di Terminal 2 F Bandara Soeta, ketika Harun Masiku melintas masuk,” kata Ronny Sompie.

Ronny menyampaikan, pihaknya akan segera memberikan penjelasan mengapa terjadi keterlambatan informasi terkait pulangnya Harun ke tanah air. Namun, dia memastikan pihaknya juga telah menindaklanjuti pencegahan keluar negeri atas dasar perintah pimpinan KPK.

Dalam kasus PAW ini, KPK menetapkan empat orang sebagai tersangka. Mereka yakni Komisioner KPU Wahyu Setiawan, Agustiani Tio Fridelina selaku mantan Anggota Badan Pengawas Pemilu sekaligus orang kepercayaan Wahyu, Harun Masiku selaku caleg DPR RI fraksi PDIP dan Saeful.

KPK menduga Wahyu bersama Agustiani Tio Fridelina diduga menerima suap dari Harun dan Saeful. Suap dengan total Rp 900 juta itu diduga diberikan kepada Wahyu agar Harun dapat ditetapkan oleh KPU sebagai anggota DPR RI menggantikan caleg terpilih dari PDIP atas nama Nazarudin Kiemas yang meninggal dunia pada Maret 2019 lalu.

Atas perbuatannya, Wahyu dan Agustiani Tio yang ditetapkan sebagai tersangka penerima suap disangkakan melanggar Pasal 12 Ayat (1) huruf a atau Pasal 12 Ayat (1) huruf b atau Pasal 11 Undang Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP.

Sementara itu, Harun dan Saeful yang ditetapkan sebagai tersangka pemberi suap disangkakan dengan Pasal 5 Ayat (1) huruf a atau Pasal 5 Ayat (1) huruf b atau Pasal 13 Undang Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. (rep)


Media Adilmakmur.co.id menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksiadilmakmur@gmail.com, dan redaksi@adilmakmur.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

HUKUM

Hasto Sebut Harun Masiku Korban, Pengamat : Ya, Korban Janji PDIP

Published

on

Sekretaris DPP PDIP, Hasto Kristiyanto.

Adilmakmur.co.id, Jakarta – PDI Perjuangan membela kadernya yang kini telah ditetapkan sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Harun Masiku. Oleh PDIP, pria yang diduga pemberi suap eks Komisioner KPU Wahyu Setiawan itu dianggap sebagai korban, bukan pelaku.

Hal tersebut pernah ditegaskan Sekretaris DPP PDIP Hasto Kristiyanto usai diperiksa KPK pada Jumat lalu 24 Januari 2020. Menurutnya, Harun merupakan korban dari penyalahgunaan wewenang Wahyu Setiawan

“Beliau menjadi korban atas tindak penyalahgunaan itu,” ujarnya.

Pengamat hukum, Petrus Selestinus membenar pernyataan Hasto tersebut. Namun pembenaran itu bernada satir.

“Hasto sangat jujur dan benar,” ujar koordinator Tim Pembela Demokrasi Indonesia (TPDI) itu Ahad 26 Januari 2020.

Dia sependapat dengan Hasto bahwa Harun Masiku merupakan korban. Hanya saja, Petrus menyebut Harun bukan korban dari oknum KPU, melainkan PDIP.

“Mengapa? Karena Harun Masiku telah menjadi korban janji PDIP, Megawati Soekarnoputri, dan Hasto Kristiyanto untuk menjadikannya sebagai anggota DPR RI melalui upaya PAW Riezky Aprilia,” terangnya.

Harun, yang merupakan caleg dari Dapil I Sumatera Selatan seperti dijanjikan akan menempati kursi DPR dengan pelimpahan suara dari Nazarudin Kiemas yang meninggal 3 pekan sebelum pencoblosan.

“Namun semuanya gagal,” pungkasnya. (rep)


Media Adilmakmur.co.id menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksiadilmakmur@gmail.com, dan redaksi@adilmakmur.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

Trending